Meriahnya Obrog sahur ramadhan di kuningan jawa barat

 

(cuplikan-obrogsahur ramadhan)

Tradisi Obrog Sahur Ramadhan: Warisan Budaya yang Menghidupkan Pagi


Bulan Ramadhan selalu membawa suasana yang berbeda di tengah masyarakat Indonesia. Selain ibadah puasa dan tarawih, ada satu tradisi yang masih bertahan di sejumlah daerah, khususnya di tanah Sunda: obrog sahur. Tradisi ini bukan sekadar membangunkan orang untuk makan sahur, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, kreativitas, dan semangat gotong royong.

Apa Itu Obrog Sahur?

Obrog sahur adalah kegiatan membangunkan warga untuk sahur dengan cara berkeliling kampung sambil menabuh alat musik sederhana. Biasanya dilakukan oleh para remaja dan pemuda, mereka berjalan dari gang ke gang sambil memainkan kentongan, bedug kecil, ember bekas, galon air, hingga peralatan dapur yang bisa menghasilkan bunyi ritmis.

Istilah “obrog” sendiri berasal dari bunyi yang ditimbulkan alat-alat tersebut—“brog, brog, brog”—yang terdengar nyaring memecah keheningan dini hari.

Sejarah dan Perkembangannya

Sebelum teknologi seperti jam alarm dan ponsel pintar populer, masyarakat mengandalkan cara-cara tradisional untuk memastikan tidak terlewat sahur. Di sinilah obrog sahur memiliki peran penting. Tradisi ini tumbuh secara alami sebagai bentuk kepedulian sosial: saling mengingatkan untuk menjalankan ibadah puasa dengan baik.

Di beberapa daerah Jawa Barat dan Banten, obrog sahur bahkan berkembang menjadi semacam pertunjukan mini. Para peserta tidak hanya menabuh alat musik, tetapi juga menyanyikan lagu-lagu religi, sholawat, hingga pantun khas Ramadhan.

(Cuplikan-ObrogPMG-partawangunan)


Nilai Sosial dan Budaya

Obrog sahur mengandung banyak nilai positif, antara lain:

  1. Kebersamaan dan Gotong Royong
    Kegiatan ini mempererat hubungan antarwarga. Anak-anak muda belajar bekerja sama, membagi tugas, dan menjaga kekompakan.

  2. Kreativitas
    Dengan alat seadanya, mereka mampu menciptakan irama unik. Bahkan ada kelompok yang menambahkan koreografi sederhana agar lebih menarik.

  3. Pelestarian Tradisi
    Di tengah arus modernisasi, obrog sahur menjadi pengingat bahwa budaya lokal tetap memiliki tempat di hati masyarakat.

  4. Semangat Ramadhan
    Suara obrog yang menggema di dini hari menghadirkan nuansa khas Ramadhan yang sulit tergantikan oleh alarm digital.

Tantangan di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, tradisi obrog sahur mulai berkurang di beberapa tempat. Beberapa faktor penyebabnya antara lain:

  • Masyarakat kini lebih mengandalkan alarm ponsel.

  • Kekhawatiran akan kebisingan yang mengganggu.

  • Kurangnya minat generasi muda untuk melestarikan tradisi.

Meski demikian, di sejumlah kampung tradisi ini tetap dijaga. Bahkan ada yang mengadakan lomba obrog sahur untuk meningkatkan semangat partisipasi pemuda.

Menjaga Tradisi dengan Bijak

Agar obrog sahur tetap relevan, diperlukan penyesuaian dengan kondisi zaman. Misalnya:

  • Mengatur waktu dan volume agar tidak berlebihan.

  • Berkoordinasi dengan warga setempat.

  • Mengemas kegiatan secara lebih tertib dan kreatif.

Dengan pendekatan yang tepat, obrog sahur dapat terus hidup tanpa mengganggu kenyamanan masyarakat.

Penutup

Obrog sahur Ramadhan bukan hanya tradisi membangunkan orang untuk makan sahur, tetapi juga cerminan nilai kebersamaan, kreativitas, dan kepedulian sosial. Di balik bunyi kentongan dan tabuhan ember, tersimpan semangat persaudaraan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.

Melestarikan obrog sahur berarti menjaga salah satu warna indah dalam mozaik budaya Ramadhan. Karena terkadang, suara sederhana di dini hari justru menghadirkan kenangan yang paling bermakna.

Posting Komentar

harap komentar dengan sopan dan bijak, Dan jangan lupa salamnya😇

Lebih baru Lebih lama